Kitab Imamat


Kitab Imamat merupakan lanjutan dari peristiwa-peristiwa dalam Kitab Keluaran yang berakhir dengan penyelesaian pembangunan Kemah Suci. Hanya satu bulan telah berlalu di antara peristiwa-peristiwa dalam Keluaran dan peristiwa dalam Kitab Bilangan (Keluaran 40:17; Bilangan 1:1).
Coba perhatikan ruang yang Allah berikan untuk Kitab Imamat. Hanya 27 ayat dalam Kejadian yang digunakan untuk menjelaskan seluruh Penciptaan, tetapi ada 27 fasal yang dibutuhkan untuk menjelaskan bagaimana kita menjalani kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Selain itu, kitab ini dikutip lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru.
Korban-korban dalam Kitab Imamat merupakan penjelasan yang paling lengkap dalam seluruh Alkitab mengenai karya penebusan Juruselamat bagi dosa manusia.
Istilah-istilah bahasa Ibrani untuk kudus, kekudusan, dan menguduskan muncul kira-kira 150 kali dalam
kitab ini. Walaupun keimaman Lewi dan sistim pengorbanan telah berhenti, namun prinsip-prinsip yang sama ini masih cocok diterapkan bagi orang-orang Kristen pada masa kini. Karena tanpa kekudusan, tidak seorangpun melihat Tuhan (Ibrani 12:14).
Kitab Imamat terbadi dalam dua bagian utama. Fasal 1 -- 17 mengemukakan dasar persekutuan manusia dengan Allah -- nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu (Imamat 17:11; Ibrani 9:22). Darah dari binatang yang dikorbankan menutupi dosa-dosa umat hanya sementara saja dan harus diulang kembali untuk setiap dosa yang dilakukan secara tidak disengaja. Namun, darah binatang yang dikorbankan itu melambangkan darah Yesus yang telah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa untuk selama-lamanya (Ibrani 10:12; 9:14).
Lima persembahan kroban diperlukan untuk memberi pengertian yang lengkap mengenai berkat-berkat yang indah yang akhirnya akan datang melalui satu persembahan korban yang terakhir yaitu kematian Tuhan Yesus Kristus (1 Yohanes 1:7).
Bagian yang kedua menjelaskan tentang tujuh hari raya dalam fasal 18 -- 27. Seluruh hari raya maupun korban persembahan melambangkan tentang Kristus.
Petunjuk pelaksanaan hari-hari raya telah disampaikan di padang gurun ketika seluruh suku berkumpul di sekitar Kemah Suci, kira-kira 500 tahun sebelum Bait Allah dibangun. Namun, hari-raya-hari raya itu diberi jarak waktu agar semua orang yang diam di Tanah Perjanjian itu dapat pergi ke Yerusalem tiga kali setahun untuk merayakan ketujuh hari raya yang telah diperintahkan itu -- Tiga kali setahun segala orangmu yang laki-laki harus menghadap ke hadirat Tuhanmu TUHAN, Allah Israel (Keluaran 34:23).
Perjalanan yang pertama ke Yerusalem dilaksanakan pada bulan pertama tahun ibadah itu ketika ke tiga Hari Raya diperingati: (1) Hari Raya Paskah, yang mulai pada malam hari yang ke 14; (b) Hari Raya Roti Tidak Beragi, mulai pada hari ke15 dan berlangsung terus selama seminggu; dan (c) Hari Raya Hulu Hasil, pada hari sesudah Sabat dalam minggu itu (Imamat 23:1-44).
Perjalanan kedua, yang dilaksanakan tujuh minggu kemudian, memperingati Hari Raya Tujuh Minggu atau yang dikenal dengan Hari Pentakosta -- Kisah 2:1, yang jatuh pada hari Minggu, pada hari sesudah Sabat, tepatnya 50 hari setelah Hari Raya Hulu Hasil.
Kelompok hari raya yang ketiga diperingati pada bulan ke tujuh. Termasuk di dalamnya adalah Hari Raya Serunai pada hari pertama; Hari Raya Pendamaian pada hari ke sepuluh; dan Hari Raya Pondok Daun dari hari ke lima belas sampai hari ke dua puluh dua.
Selain ke tujuh hari raya juga ada hari Sabat, yang juga dinamakan hari raya. Ada Sabat mingguan dan beberapa Sabat khusus yang juga sering disebut pertemuan kudus (Imamat 23:2-4,7-8,21,24,27,35-37). Semua ini merupakan kesempatan untuk bersekutu bersama-sama dan merayakan kebaikan-kebaikan Tuhan dan kesempatan mendengarkan ajaran dari FirmanNya yang kudus. Pada saat itu seorangpun tidak boleh melakukan sesuatu pekerjaan - di segala tempat kediamanmu (Imamat 23:3,14,21,31).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar